Gelap malam terlihat begitu kejam. Gelap kelam di saat hujan seperti inilah yang selalu memperlihatkan kejamnya malam dengan warna hitam kelamnya. Seakan memperlihatkan bahwa musim hujan hanya datang untuk membawa kepahitan dalam hidup. Terkadang hanya melihat hitamnya kelam malam, dapat membuatku enggan untuk melihat dan menatapnya indahnya bintang gemintang yang biasa aku lihat di gelapnya malam langit Bandung. Namun, saat aku berada di kota ini, terkadang ketika aku pulang mataku tak dapat melihat indahnya bintang gemintang itu. Karena kota ini, sering diguyur hujan walau bukan di musimnya.
Senin, 21 Juli 2014
Part 9: Angry Brother
19.40
Ya, dengan semua yang telah kulakukan. Mulai shalat istikharah, Nasehat yang kudapat secara tiba-tiba dari Kak Ross, persetujuan dari dua Abang-Abang tercintaku walau Abang Dhillah tidak memberikan izin itu sama sekali, juga dengan perang melawan hatiku yang paling keras. Aku memantapkan diri untuk menerima Fian. Apalagi setelah mendengar penuturan panjangnya. Semua perempuan juga akan meleleh jika mendengar kata-kata itu. Dan perempuan itu termasuk Aku.
Part 8: The Decision
19.28
Langit begitu cerah. Ya, masih cerah seperti yang kukatakan sampai mungkin bisa membuat orang malas untuk keluar rumah dan bermain. Tapi tidak untukku saat ini. Karena saat ini, di jam setengah 11 ini, aku sudah berada di lokasi pertandingan voli. Bahkan masih di lokasi walau tadi sahabat-sahabatku telah pergi dari sini. Dengan alasan 'untuk apa bertahan di lokasi kalau niat awalnya buat lihat Utet main, tapi ga jadi main'. Begitulah. Dan karena satu alasan yang cukup pribadi, kuminta mereka pergi lebih dahulu. Meninggalkan aku, agar aku bisa menyusul mereka setelah keperluanku sekarang selesai. Mengingat aku begitu ingin menyelesaikan masalah yang kemarin-kemarin mencekik leherku. Dengan menemui Fian dan menyelesaikan semua masalah ini. Agar aku terbebas tanpa masalah lagi.
Bab 7: Kiss On My Head
19.22
kecuali karena satu hal.
Abang berharap aku mengikuti apa yang Ia rasa baik untukku. Walau aku tak yakin apakah itu baik atau tidak. Tapi jika mengingat kejadian yang sama saat Abang Amal mengecup singkat dahiku, itu membuatku menjadi sedikit ragu akan keputusan yang akan aku buat. Aku akui, aku akan membuat keputusan tanpa harus membuatku berubah pikiran lagi. Karena aku benar-benar belum siap untuk menikah di usia yang sangat muda seperti ini. Aku memiliki target usia sendiri. Dan 19 bukanlah target usia menikah untukku.
Part 6: Big Problem
19.08
Hari sebenarnya sudah sangat. Sangat. Sangat. Sore. Bahkan hampir mau malam. Padahal ketika Abang Amal bilang untuk kami shalat dulu di masjid terdekat, aku kira bahasan yang tak mau kudengarkan itu akan habis. Ternyata perkiraanku salah. Ajakan Abang Amal shalat yaitu untuk menyegerakannya bukan untuk mengakhiri perbincangan mereka berdua. Dan aku tak tahu sampai kapan aku akan terjebak dalam percakapan mereka yang sepertinya sangat penting. Sialnya lagi Abang tidak memiliki inisiatif yang cepat untuk mengantarkanku pulang terlebih dahulu.
Prolog
02.48
Aku melihatnya.
Aku melihat mereka. Sungguh aku melihat mereka. Yang menangis keras didepan dua jasad yang kutebak orangtua mereka. Tepat disamping motor yang hancur. Dan aku jelas melihat bagaimana kejadian itu terjadi. Tapi kakiku menjadi kaku sejak melihat kejadian tadi. Entah mengapa aku menjadi terasa lumpuh. Tapi aku tidak lumpuh. Parahnya lagi yang sangat mengagetkan aku. Mengapa tidak ada yang menghampiri dua anak dibawah balita itu??
Part 5: Annoying
02.44
"Dia serius tuh kayaknya, Tet. Kenapa ga diterima aja sih?"
"Kenapa harus aku terima??"
Aku sempat kaget mendengar kalimatnya barusan. Tapi aku juga ingat, bahwa Widi itu orangnya kan kayak minyak yang suka ngelemparin diri ke api. Jadi tambah gede apinya.
"Tet, aku ga mungkin bilang gitu tanpa mikir. Maksud aku, bayangin aja. Ntar, aku Tanya, si Fian asli mana sih??"
Langganan:
Postingan (Atom)



